30 November 2020

PEDOMAN DALAM BER INFAQ



INFAQ  adalah membelanjakan harta dijalan Allah. Berikut ini adalah Pedoman dalam membelanjakan harta yang dapat kita jumpai pada Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 261-274

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ - ٢٦١

terjemahan kemenag: Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.

Qur'an surat. Albaqoroh ayat 261 ini bersifat pemberitahuan. Membelanjakan harta yg kita punya adalah wajib, namun kita melihatnya dari sisi akhlak atau etika bukan dari sisi syariatnya. kita membaca dari sisi etika islam. (eticoreligius). Konsep wajib dalam etis bukan berarti harus dan tidak harus, bukan pula dosa tidak dosa tetapi adalah pantas atau tidak pantas. in proper. di ayat ini pesan wajib tidak dalam narasi fiqh (syariat) tetapi dalam narasi etik. lebih deskriptif encouraging motivasional. makanya dalam ayat ini isinya perumpamaan infaq seperti kita menabur 1 butir biji yang mampu menumbuhkan 7 bulir yg tiap bulir berisi 100 biji. Kita bisa melihat di ayat ini Allah menganjurkan dengan sangat bahkan sampai memotivasi kita untuk berinfaq dengan iming iming yang sungguh menggiurkan. Orang awam sekalipun akan sangat termotivasi untuk berinfaq dengan adanya ayat ini. ini nasehat untuk orang yg menyimpan meski dia sebenarnya butuh. 

Bukan iming imingnya yang penting, namun ketaatan kita kepada Allah menjadi yang utama. Memberikan infaq dibalas atau tidak dibalas oleh Allah itu adalah kuasa Allah, kewajiban bagi kita hamba adalah menjalankan apa yang telah diperintahkanNya. kita tidak bisa mengklaim bahwa ketika kita berinfaq maka pasti akan mendapatkan ganjaran berlipat lipat seperti deskripsi ayat ini.  kita juga harus sadar bahwa Allah" maha semau gue" yang tentu tidak bisa didikte dan ditukar dengan amalan kita. kita tidak bisa berdagang amal dengan Allah. kita sebagai hamba hanya sampai pada melaksanakan perintahNya saja, selebihnya kita serahkan kepada Allah. Dalam konteks ini kita lebih baik mengembangkan konsep syukur daripada konsep berharap atas infaq yang kita lakukan. Dalam konteks syukur, bisa kita artikan ketika kita akan berinfaq itu adalah ketika kita punya maka kita mensyukurinya dengan cara menyisihkan sebagian untuk orang yang lebih membutuhkan. konsep ini lebih aman dan memastikan kita ada di jalan Allah (fisabililah). Kita memaknai motiv syukur dalam ber infaq pada ayat ini juga menujukan konsistensi ayat Allah lainya yang memfirmankan bahwa barang siapa bersyukur maka akan ditambah. Ditambah seperti perumpamaan ayat 261 ini. 

اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُوْنَ مَآ اَنْفَقُوْا مَنًّا وَّلَآ اَذًىۙ لَّهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ - ٢٦٢

terjemahan kemenag: Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.

Qur'an surat Albaqoroh ayat 262 ini adalah penjelasan kongkrit dari Qur'an surat Albaqoroh ayat 261 yang masih bersifat motivasional. Dalam infaq ada dua jenis mebelanjakan harta yaitu internal (untuk diri sendiri) dan eksternal (untuk orang lain). syarat agar tumbuh: internal lakukan belanja fisabililah)bersyukur dalam konteks rumah tangga artinya jangan untuk kemaksiatan. syarat agar infaq eksternal bertumbuh: jangan mengungkit setelah memberi, cara memberinya jangan dg cara yg tidak menyenangkan. mengungkit ungkit: mengingatkan bahwa saya telah memberi jasa baik kepadamu, kedua merendahkan dg mengatakan bahwa keberhasilanmu tidak akan tercapai jika tanpa saya.

jika kita terpaksa tidak dapat membantu maka minta maaf dg kata yg baik. ini lebih baik dari membantu tetapi ngedumel dibelakang. orang minta:malu orang minta tidak diberi:dua kali malu. orang yg dua kali malu berpotensi berbuat dosa/maksiat. maka ketika kamu menolak tidak bisa membantu tolak dg bahasa halus dan mintakanlah maaf orang yg minta itu.

۞ قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ يَّتْبَعُهَآ اَذًى ۗ وَاللّٰهُ غَنِيٌّ حَلِيْمٌ - ٢٦٣

terjemahan kemenag: Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun. 

Ayat ini adalah elaborasi dari ayat 261-262 tentang perkataan baik dan pemberian maaf. saat kita tidak bisa memberikan pertolongan kepada orang yang meminta tolong kepada kita maka tolaklah dengan kata kata yang halus dan sopan. lalu setelah itu jikapun orang yang meminta tolong kepada kita lalau mengumpat dengan bahasa kasar akibat kekesalannya tidak mendapatkan pertolongan kita maka maafkanlah. karena orang yang meminta tolong itu sudah menanggung rasa malu satu kali, apa bila ditolak maka dia akan menanggung malu untuk kedua kalinya. kadang hal ini menjadikan orang orang menggerutu atau mengeluarkan bahasa kasar. nah kita sebagai pihak yang dimintai tolong harus memaafkan terlebih dahulu atas perbuatan itu.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ - ٢٦٤

terjemahan kemenag: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.

Lagi, ayat ini Elaborasi dari ayat 261-262 tentang larangan mengumpat atau mengungkit ungkit atas infaq yang telah kita berikan. saking haramnya perbuatan memberi infaq yang disertai umpatan dan mengungkit ungkit sehingga diumpamakan (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. sebuah gambaran yang menandakan perbuatan infaq kita tidak akan meninggalkan bekas apapun setelah kita mengungkit ungkit didepan penerima atau pun mengumpat. ini merupakan gambaran bahwa orang tersebut tidak mendapatkan apa apa lagi atas apa yang dia lakukan. seketika kebaikannya terhenti sampai disitu. istilah kasarnya infaqmu akan bosok jika mengungkit ungkit.

وَمَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ وَتَثْبِيْتًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍۢ بِرَبْوَةٍ اَصَابَهَا وَابِلٌ فَاٰتَتْ اُكُلَهَا ضِعْفَيْنِۚ فَاِنْ لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗوَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ - ٢٦٥

terjemahan kemenag: Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari rida Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Masih elaborasi dari ayat 261-262. Disini dapat kita temukan pesan bahwa Allah mengetahui apapun motive yang lahir dari infaq yang kita lakukan. dan sebaik baik motive dalam berinfaq adalah motive bersyukur. kita bersyukur karena kita telah diberi. mudah mudahan dengan motive bersyukur kita dapat menyenangkan Allah. Makna dari "rida" adalah senang, jadi jika kita ingin mencari dan mendapatkan rida Allah maka kita harus bisa "menyenangkan" Allah. 

اَيَوَدُّ اَحَدُكُمْ اَنْ تَكُوْنَ لَهٗ جَنَّةٌ مِّنْ نَّخِيْلٍ وَّاَعْنَابٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ لَهٗ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِۙ وَاَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهٗ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاۤءُۚ فَاَصَابَهَآ اِعْصَارٌ فِيْهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ ࣖ - ٢٦٦

terjemahan kemenag: Adakah salah seorang di antara kamu yang ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, di sana dia memiliki segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tuanya sedang dia memiliki keturunan yang masih kecil-kecil. Lalu kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, sehingga terbakar. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkannya.

Elaborasi terakhir dari ayat 261-262 ada di ayat 266 ini. Bahwa sayangnya kebanyakan orang tidak memikirkan tentang pentingnya berinfaq secara benar. Tentang bagaimana etika kita saat berinfaq, tentang anjuran dan larangan yang dalam membelanjakan harta dijalan Allah. Padahal tanda tanda itu sudah sangat jelas dan terang benderang.


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ - ٢٦٧

terjemahan kemenag: Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji.

Ayat ini menjelaskan tentang apa yang harus kita infaqkan. Dalam berinfaq kita harus memberikan yang terbaik dari yang kita punya. Ukuran baik dan buruk tersebut diukur berdasarkan preferensi pemberi infaq. Namun jika itu masih terlalu sulit dimengerti maka secara umum terbaik dapat didefinisikan sebagai "banyak" secara kuantitas dan "bermutu" secara kualitas namun sekali lagi preferensi ini dinisbatkan kepada pemberi infaq. contoh kongkritnya adalah misal bagi pemberi infaq uang Rp. 100.000 itu besar maka itu adalah yang terbaik bagi si pemberi maka itulah yang harus di infaqkan. Dalam bahasa extreme jika kamu ingin berinfaq saat membuka isi dompetmu, jumlah uang yang paling kamu sayangi yang paling membuat kamu deg degan untuk melepaskannya itulah infaq terbaik untukmu.

اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاۤءِ ۚ وَاللّٰهُ يَعِدُكُمْ مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ۖ - ٢٦٨

terjemahan kemenag: Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.

Allah sebagai tuhan pencipta mahluk sangatlah tahu tabiat kebiasaan kita manusia yang sangat mencintai harta benda duniawi ini. Butuh tekad yang kuat, nyali yang besar untuk bisa meyakinkan diri ini untuk melepas kecintaan kepada dunia lewat ber infaq. tekad itu semakin dibutuhkan karena setan juga akan menggoda kita dengan cara menakut nakuti kita akan miskin jika ber infaq. lebih halus lagi setan kadang menggoda kita dengan tiba tiba membuat apa yang akan kita sedekahkan menjadi sangat berharga dan akan sangat dibutuhkan di masa depan agar kita tidak jadi sedekah. sepatu yang misalnya sudah lama tidak dipakai lalu ada orang lain meminta untuk dipakai agar lebih manfaat dari pada di simpan saja, tiba tiba bisa menjadi sangat dibutuhkan dan masih berharga. kita sebagai orang beriman tentunya harus tegas menghadapi godaan ini. semakin kita merasa khawatir dan mencintai kepunyaan kita maka semakin kita harus menginfaqkannya.

يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ - ٢٦٩

terjemahan kemenag: Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.

Ilmu adalah pengetahuan yang berbasis dari pengalaman di masa lalu, sedangkan hikmah adalah pengetahuan yang didapat dari rencana dimasa depan. ilmu selalu terlihat kuno jika dibanding hikmah. Allah mengetahu apa yang telah dan akan terjadi, itu artinya Allah menguasai ilmu dan hikmah. Allah juga maha berkehendak kepada siapa dia akan menganugerahkan ilmu dan hikmahNya. 

وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ نَّفَقَةٍ اَوْ نَذَرْتُمْ مِّنْ نَّذْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُهٗ ۗ وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ - ٢٧٠

terjemahan kemenag: Dan apa pun infak yang kamu berikan atau nazar yang kamu janjikan, maka sungguh, Allah mengetahuinya. Dan bagi orang zalim tidak ada seorang penolong pun

Al Qur'an surat albaqoroh ayat 270 menjelaskan tentang infaq meski dipublikasi itu baik asal bukan kita yang mempublikasikanya sendiri. 

7. jika kita belanjakan (infaq) uang untuk kepentingan pihak lain jangan mensyaratkan kebaikan orang lain. misal syarat agama dll.

8. prioritas kategori yg akan kita beri. fuqoro=orang yg butuh. berikan infaq kepada orang yg sibuk membela agama tuhan sehingga tidak ada kesempatan untuk mencari dunia. orang yg mewakafkan diri untuk fisabililah (ashabus sufah). 

9. ayat 274 sedekah mau siang atau malam sepi atau ramai semua ada ganjaranya. tuhan mengganjar banyaknya terserah tuhan kepada siapa juga terserah tuhan. kasih tuhan meluasi segala macam. rahmat tuhan mendahului amal kita. amal bukan satu satunya sebab turunya rahmat. 

0 komentar:

TOPIK POPULER MINGGU INI

ide bisnis modal kecil: keripik tempe atm